//
you're reading
indonesia, Jendela Islam

“Bangsa yang Besar Adalah Bangsa yang Menghormati Jasa Pahlawannya”

bonjol_1“Bangsa yang Besar Adalah Bangsa yang Menghormati Jasa Pahlawannya” (Soekarno)

Inilah kutipan sang proklamator bangsa, Bung Karno, dan memang seharusnya demikianlah sikap kita terhadap para pahlawan bangsa yang dengan gagah berani mempertaruhkan Harta bahkan Darah untuk menghadirkan kemerdekaan yang hakiki bagi rakyat Indonesia.

Berbicara tentang pahlawan, saya kemudian mencoba mencari-cari beberapa foto gambar pahlawan yang mahsyur namanya disebut. Dan tentu saja rasa bangga muncul ketika nama-nama yang keluar adalah sosok-sosok ulama besar Islam. Hal itu terpampang secara jelas lewat penampilan dan sejarah-sejarah yang tertulis atas nama para pahlawan tersebut.

Sebut saja misalnya, KH. Hasyim Ashari, KH. Ahmad Dahlan, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Sisingamangaraja, Syaikh Yusuf Almakassari, Buya HAMKA, Sultan Alauddin dan Sultan Hasanuddin, Pattimura, Kihajar Dewantara, dan Pangeran Antasari. Bahkan tokoh-tokoh proklamator misalnya saja Bung Karno dan Bung Hatta dengan bangga senantiasa mengenakan Songkok Kebesaran mereka yang menggambarkan bahwa mereka adalah seorang Muslim sejati, Wallahu ‘alam. Tapi sekali lagi kita hanya bisa menghakimi dan menilai seseorang dari yang apa yang tampak pada dirinya. Dan memang sejatinya apa yang ada di dalam hati akan tampak secara dzahir dalam aktivitas keseharian kita, termasuk cara berpakaian.

Singkatnya yang ingin saya katakan bahwa salah satu upaya atau bentuk penghargaan kita kepada para pahlawan kita adalah dengan melestarikan semangat perjuangan mereka yang dilandasi atas dasar aqidah yang benar. Dengan landasan utama ini prinsip Bhineka Tunggal Ika akan mudah terealisasi sehingga muncullah rasa persaudaraan, rasa kebersamaan, dan rasa saling sepenanggungan, yang dengannya tentu saja diharapkan akan semakin menyatukan langkah dalam perjuangan membawa bangsa ini kearah yang lebih baik lagi. Cara lain, Wallahu ‘alam, dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki, salah satu upaya kita untuk menghargai perjuangan bangsa adalah dengan melestarikan dan mencintai apa yang senantiasa mereka contohkan, salah satunya dalam berpakaian. Tentu saja saya tidak akan merekomendasikan untuk menggunakan jubah dan surban tentu saja, apalagi secara Urf (berdasarkan adat dan kebiasaan saat ini) hal tersebut sudah tidak relevan lagi. Tapi yang esensial adalah bagaimana seorang muslim menampakkan cirri keIslamannya dalam kehidupan sehari-hari seperti apa yang telah dicontohkan oleh para pejuang Nasional kita.

Atau jika tidak memungkinkan, PALING TIDAK KITA TIDAK MENGOLOK-OLOK atau BAHKAN SAMPAI MENGHINA DAN MERENDAHKAN mereka yang berpenampilan demikian. Senang dengan baju koko atau gamis, senang menggunakan sarung, dan senang menggunkan kopiah dikepalanya. Sungguh sangat memilukan mereka yang senang dengan penampilan tersebut tertuduh sebagai kalangan marginal, kaum kolot, dan banyak lagi istilah tidak jelas dan sangat tidak pantas untuk dilontarkan. Jika orang-orang tersebut menghina demikian maka boleh jadi secara tidak langsung mereka telah menghina para Tokoh Nasional Pejuang Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Terlontarlah kadang orang yang memelihara Sunnah dan petunjuk Rasulnya misalnya jenggot dengan panggilan hewan, yang celananya tidak melewati mata kaki disebut kebanjiran, yang memelihara sholat berjamaah di cap terlalu cepat taubat, dll. Padahal coba lihat penampilan para pahlawan kita, para pejuang kemerdekaan. SULTAN HASANUDDIN dan SYAIKH YUSUL ALMAKASSARI Misalnya, coba perhatikan PAKAIAN BELIAU, yang saya dapati celana beliau tidak  melewati mata kaki. Sehingga sangat tidak pantas Orang-orang Makassar mengina para kaum muslimin yang celananya di atas mata kaki, Karena sama saja ia menghina Sultan Hasanuddin dan yang jauh lebih berbahaya adalah MENGHINA RASULULLAH karena hal tersebut adalah perintah dari Rasulullah.

Namun, tentu saja yang jauh lebih penting adalah apa yang ada dalam hati kita dari pada yang sekedar tampak karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian (apa yang tampak secara dzahir), tetapi Allah melihat kepada hati kalian (batin).” (HR Muslim)

Wallahu ‘alam

 

Advertisements

About Amirullah Dg Sibali

Tarbiyah is The Plus One

Discussion

No comments yet.

Mari Berikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: