//
you're reading
goresan, Hanya Opini

Waktu, Problem, dan Masa Depan, Entahlah?

Camera 360Kawan tak terasa waktu begitu cepat bergulir. Tahun, Bulan, Pekan, hari, hingga detik-demi detik kini berlalu tanpa memberi lagi kita kesempatan untuk berada pada waktu yang kemarin.

Matahari yang terbit pagi ini boleh jadi secara kasat mata masih seperti yang kemarin, namun pada hakekatnya matahari yang terbit hari ini adalah matahari yang berbeda dari kemarin. Matahari yang terbit kemarin dan hari-hari sebelumnya telah pergi jauh meninggalkan kita dan tak akan pernah lagi datang kembali.

Demikian juga hari-hari kita dikampus atau dikantor, atau dimanapun itu. khusus untuk diriku yang masih berkutat di dunia kampus, rasanya baru kemarin aku masuk dan berkenalan dengan teman-teman kelas, tapi ternyata hari ini tanpa disadari, kami telah berada pada fase-fase akhir kehidupan kampus.

Seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia dan banyaknya pengalaman hidup yang didapatkan lewat interaksi yang intensif dengan orang-orang yang ada di sekitar kita, maka pola pikir kita pun perlahan tapi pasti berubah. Salah satunya berubah dari tipe pemikiran hedonis ala remaja yang mengedepankan aspek kesenangan (what we want) menuju pemikiran yang sedikit lebih rasional dan mengedepankan aspek kebutuhan (what we Need).

Dahulu, di awal masa-masa kuliah yang ada di benak saya pribadi hanya berkutat seputar rumah, warung makan, buku, waktu istirahat, dan segala sesuatu yang membuat saya tetap comfortable di zona nyaman. Belum sampai rasanya dibenak tentang apa yang akan aku lakukan selepas kuliah? dimana tempat yang tepat untuk melanjutkan pendidikanku? Bagaimana Kondisi bangsaku, bagaimana Agama Islam Kedepannya, bagaimana para pemuda nantinya? bahkan ke hal-hal yang mendasar namun cukup penting juga siapa nanti Ibu dari anak-anakku? dimana aku akan menghabiskan dan membina mereka? dan seklumit persoalan yang biasa dipikirkan oleh para Bapak dan Ibu-ibu.

Namun kini, Semuanya telah berubah, di fase akhir menajalani kehidupan, diri ini mulai gusar, jiwa ini mulai resah, berbagai macam pemikiran perlahan tapi masti mulai masuk dan merasuk mengganggu waktu-waktu ku.

Kepikiran soal Masa depan, tentang pendidikan, tentang rumah, tentang istri (akankah yang mendampingiku adalah wanita yang bagus agamanya, cerdas pemikirannya, bagus akhlaknya, dan pengertian kepada suami?), akankah anak-anak kami nanti adalah anak-anak yang soleh yang akan mengantarkan orang tuanya menuju Jannah yang kekal ataukah sebaliknya, dan lain-lain. Tak hanya itu, Amanah yang dibebanakan padaku saat ini sebagai salah satu pengurus Lembaga Kemahasiswaan (Lembaga Dakwah Fakultas) Di Fakultas Ilmu Pendidikan menambah daftar panjang hal-hal yang harus dipikirkan, yaitu, Siapakah yang akan melanjutkan dan mengemban tongkat estafet kepengurusan? yang akan membumikan IDEALISME TAUHID dan menancapkan Benderanya di Fakultas Hijau FIP UNM Makassar atau malah akan menjadi awal kehancuran dakwah Tauhid di FIP?

Wajarkah hal yang kupikirkan ini??

Dan saya sangat yakin setelah fase ini, Orientasi berpikir tersebut akan beralih ke Masalah yang lain, entahlah apa lagi itu. Namun yang pasti saya berharap pemikiran saya tidak didominasi oleh pemikiran-pemikiran yang bersifat duniawi. Semoga saja kepusingan saya lebih didominasi oleh kekhawatiran atas kehidupan akhirat, dimana kita akan berlabuh dan beristirahat untuk selama-lamanya. bukan malah disibukkan oleh aktivitas duniawi yang melalaikan dan membuat kita lupa akan Tuhan kita Allah Subhanahu Wa taala.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).

dan Terakhir sebuah nasehat indah dari Ibnu Qayyim bahwa “hendaknya setiap insan menyadari bahwa dia tidak akan tinggal selamanya di alam dunia. Dan mestinya dia sadar kalau dirinya hanyalah sebagaimana tamu yang singgah di sana, dia akan segera berpindah darinya. 

Semoga Nasehat tersebut bisa senantiasa mengingatkan kita bahwa Pusingnya kita di Dunia, dan banyaknya pikiran yang menggelayuti disetiap desahan nafas kita seharusnya didominasi oleh perkara akhirat. karena kepusingan dan kegalauan di Dunia akan segera kita tinggalkan sebab ia hanya sementara. Lalu kita akan beralih ke kepusingan dan pikiran yang lebih berat yakni di akhirat kelak. dan pusing tidak nya, resah tidaknya, galau tidaknya, serta nyaman tidaknya kita di akhirat itu sangat tergantung atas apa yang kita perbuat di waktu yang singkat ini di dunia.

Semoga bermanfaat bagi diri kami dan bagi kawan-kawan sekalian, wallahu ‘alam.

Advertisements

About Amirullah Dg Sibali

Tarbiyah is The Plus One

Discussion

No comments yet.

Mari Berikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: