//
you're reading
Bimbingan Konseling, Tugas Kuliah, Universitas Negeri Makassar

Laporan Studi Kasus

oleh Muhammad Amirullah (Mahasiswa Psikologi Pendidikan dan Bimbingan UNM Makassar)

BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1.      Latar Belakang

Dunia pendidikan merupakan sebuah wadah yang sangat potensial dalam membina dan mempersiapkan para generasi pelanjut bangsa. Melalui dunia pendidikan inilah masa depan bangsa diperjuangkan demi terciptanya kehidupan bangsa yang lebih baik. Walaupun demikian,  tujuan pendidikan yang mulia ini kadang tidak mampu tercapai dengan optimal karena berbagai hal yang terjadi pada jalannya proses pendidikan.

Siswa sebagai lakon utama dalam dunia pendidikan tentu saja tidak bisa dilepaskan begitu saja dari berbagai problem yang turut memberi pengaruh atas berhasil tidaknya proses pendidikan yang dilaksanakan. Permasalahan tersebut bila ditinjau lebih spesifik akan bermuara pada empat hal, yakni masalah pribadi, masalah sosial, masalah karir, dan masalah belajar.

Dalam mengatasi dan mencegah permasalahan-permasalahan tersebut, maka guru Bimbingan dan Konseling sangat dibutuhkan perannya. Sebagai guru yang lebih banyak berperan pada aspek psikologis dan afektif siswa, maka guru Bimbingan dan Konseling harus mengoptimalkan perannya dengan berbagai keterampilan konseling yang dimilikinya untuk membantu siswa.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi permasalahan siswa adalah dengan melakukan studi kasus. Studi kasus dapat memberikan gambaran yang eksplisit kepada guru Bimbingan dan Konseling terkait dengan permasalah siswa.

Dalam rangka mempersiapkan diri sebelum menjadi guru Bimbingan dan Konseling di Sekolah, maka mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling sangat perlu dibekali pengetahuan dan pemahaman tentang Studi Kasus.

 

  1. 2.      Tujuan

Studi Kasus ini dilaksanakan dengan tujuan memberikan pemahaman kepada mahasiswa Bimbingan dan Konseling cara membuat dan menyusun laporan studi kasus.

Selain itu mahasiswa juga diharapkan memperoleh banyak pengalaman dalam rangka menyelesaikan sebuah permasalahan yang dialami oleh konseli. Dengan demikian diharapkan mahasiswa akan semakin mengasah kemampuannya sebelum terjun menjadi seorang guru Bimbingan dan Konseling.

  1. 3.      Waktu dan Tempat

Penelitian Studi Kasus ini dilaksanakan di SMKN 3 Makassar sejak tanggal 25 April 2013  sampai dengan tanggal 22 Mei 2013

  1. 4.      Gambaran Umum Kasus

Berdasarkan informasi yang kami peroleh dari berbagai pihak, diketahui bahwa konseli sering terlambat datang ke sekolah. Tidak hanya itu konseli juga sering tidak datang sama sekali ke sekolah. Konseli juga sering sekali tertidur di dalam kelas saat pelajaran sedang berlangsung.

Kondisi ini terjadi pasca konseli berada di semester II kelas I. Padahal sebelumnya, konseli merupakan anak yang rajin dan sama sekali tidak memiliki permasalahan-permasalahan di atas.

Kondisis konseli juga saat masih berada di SMP sangat baik, konseli adalah anak yang penurut dan tidak menunjukkan permasalahan yang membutuhkan penanganan khusus secara serius.

 BAB II

PENGUMPULAN DATA DAN DESKRIPSI KASUS

  1. 1.      Pengumpulan Data

Dalam rangka mengidentifikasi lebih dalam permasalahan yang dialami oleh konseli, maka digunakan teknik wawancara dan observasi

1.1. Wawancara

wawancara adalah bentuk komunikasi lisan, yang dilakukan menurut struktur pembicaraan tertentu oleh dua orang atau lebih, dengan kontak langsung atau jarak jauh, untuk membahas dan menggali informasi tertentu guna mencapai tujuan tertentu pula (galeripustaka.com, 2013)

1.2. Observasi adalah

Observasi adalah metode pengumpulan data melalui pengamatan langsung atau peninjauan secara cermat dan langsung di lapangan atau lokasi penelitian. Dalam hal ini, peneliti dengan berpedoman kepada desain penelitiannya perlu mengunjungi lokasi penelitian untuk mengamati langsung berbagai hal atau kondisi yang ada di lapangan.(klikbelajar.com, 2011)

  1. 2.      Deskripsi Kasus

2.1. Identifikas Kasus

Pertanyaan esensial yang harus terjawab dalam langkah identifikasi kasus adalah siapa individu atau sejumlah Individu yang dapat ditandai atau patut diduga bermasalah atau memerlukan layanan bantuan (Razak, Sulaiman, dan Sofiani, 2004)

Untuk mengetahui individu yang mengalami sebuah permasalahan maka digunakanlah layanan yang dapat dijadikan instrument dalam mengungkap siswa yang sedang mengalami masalah. Robinson (Razak, Sulaiman, dan Sofiani, 2004) menyarankan beberapa cara agar permasalahan siswa dapat diketahui oleh konselor. Cara tersebut adalah :

  • Call them in approach, yaitu pemanggilan dan wawancara langsung terhadap beberapa siswa. Dari hasil wawncara itulah diperoleh informasi tentang siswa yang bermasalah
  • Maintain good Relation, menciptakan hubungan yang baik dan penuh keakraban antara guru pembimbing dengan peserta didik. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler. Diharapkan kegiatan semacam dapat menjadikan konseli lebih terbuka kepada konselor saat menghadapi masalah atau kesulitan
  • Developing a desire for counseling, menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya.
  • Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik.
  • Melakukan analisis sosiometris, dengancaraini dapatditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial.

Pada laporan studi kasus ini, dalam melakukan identifikasi kasus, peneliti menanyakan/ mewawancarai langsung kepada guru Bimbingan dan Konseling (diwakili oleh Mahasiswa PPL) tentang siswa yang diduga mengalami sebuah permasalahan.

Dari hasil wawancara tersebut diperoleh informasi tentang seorang siswa yang dianggap mengalami permasalahan. Untuk memastikan hal tersebut, peneliti kemudian mewawancarai dua orang teman kelas siswa tersebut (ketua kelas dan wakil ketua kelas) untuk mendapatkan informasi lebih banyak dan mengkroscek kembali informasi sebelumnya yang didapatkan dari guru Bimbingan dan Konseling.

2.2. Identifikasi Masalah

  Data siswa

A. Identitas Siswa

Nama Inisial                        : RSL

No Induk                              : 07.0040

Jenis kelamin                      : Laki-laki

Tempat, tanggal lahir      : Mataleuno, 9 November 1998

Alamat                                    : Jalan Pelita 8 No 7, Makassar

Agama                                     : Islam

Cita-cita                                  : –

Anak ke                                   : 1(satu) dari 3 bersaudara

Keadaan Keluarga

Konseli sejak kelas 1 SMP tidak tinggal bersama orang tua kandung, melainkan bersama dengan Wali ( Paman dan Tante). Bersama walinya konseli tinggal dengan banyak orang disebabkan kondisi rumah Walinya yang juga merupakan asrama kost. Saat ini konseli tidak tinggal lagi bersama Walinya, tetapi memilih tinggal di rumah kost sendiri. Alasannya karena merasa tidak cocok lagi dengan paman dan tantenya. Alasan ketidak cocokannya adalah karena merasa sering dimarahi (ditegur) dengan aktivitas yang dilakukan oleh konseli.

Hasil Observasi dan Wawancara

Dalam mengidentifikasi masalah siswa, peneliti menggunakan dua instrument, yakni observasi dan wawancara langsung. Dalam mengobservasi konseli, peneliti menggunakan pedoman observasi kegiatan belajar dalam kelas. Observasi yang peneliti lakukan adalah observasi tidak langsung, yakni dengan mengamanahkan kepada salah seorang teman kelas konseli (wakil ketua kelas) untuk mengamati konseli di dalam kelas. Sedangkan wawancara dilakukan kepada beberapa informan untuk mendapatkan informasi terkait dengan masalah konseli.

Dari wawancara yang dilakukan kepada teman kelas diketahui bahwa konseli sangat sering tidak masuk ke sekolah. Dalam satu pekan, konseli tidak pernah hadir secara full ke sekolah. Selain sering tidak datang ke sekolah, konseli juga sering datang kesiangan sehingga menyebabkannya tidak mendapatkan pelajaran di jam pertama dan kedua.

Dari wawancara yang dilakukan kepada wali kelas, diketahui bahwa konseli sangat sering terlambat dan tidak datang ke sekolah. Menurut wali kelasnya, konseli juga sering mengantuk bahkan tertidur saat pelajaran sedang berlangsung.

Saat melakukan wawancara langsung. Konseli mengakui bahwa dirinya sering terlambat dan sangat sering tidak datang ke sekolah. Alasan yang dikemukakan oleh konseli adalah tidak mampu tidur cepat pada saat malam hari. Konseli baru bisa tertidur saat larut malam jam 1-2 ke atas. Akibatnya konseli terlambat bangun dan akhirnya terlambat datang ke sekolah. Konseli menjelaskan bahwa aktivitas yang dilakukannya saat malam hari adalah bermain dengan barang-barang elektronik yang dimilikinya (Handphone dan laptop)

Hal ini dibenarkan oleh paman dan tante konseli. Saat masih tinggal bersama mereka, konseli memainkan laptop hingga larut malam, akibatnya konseli diingatkan/ ditegur oleh Walinya sehingga merasa tersinggung. Akibat merasa dimarahi ketika ditegur untuk menghentikan aktivitasnya bermain laptop, konseli memutuskan untuk tidak lagi tinggal bersama Paman dan tante, dan lebih memilih untuk tinggal dengan cara menyewa kamar kost.

2.3.  Diagnosis

Permasalahan yang dialami oleh seseorang tidak terjadi begitu saja. Permasalahan tersebut biasanya merupakan rangkaian dari permasalahan-permasalahan sebelumnya. Olehnya itu permasalahan yang dihadapi oleh siswa tidak bisa hanya dipandang dari masalah yang dihadapi, namun juga harus dikaitkan dengan permasalahan-permasalahan sebelumnya.

Bentuk Kesulitan

Hal utama yang menjadi permasalahan konseli saat ini adalah ketidak hadiran. Disetiap pekan konseli selalu meluangkan waktu 1-3 hari untuk tidak datang ke sekolah. Hal ini berakibat pada proses belajar yang tidak maksimal yang didapatkan oleh konseli.

Latar Kehidupan

Konseli tinggal jauh dari orang tua sejak kelas 1 SMP. Konseli ditempatkan bersama salah seorang kenalan orang tua untuk kemudian melanjutkan sekolah di Makassar. Walaupun menjalani kehidupan yang jauh dari orang tua, konseli tetap bisa merasa nyaman karena kebutuhan harian dan kebutuhan sekolah tetap ditanggung dengan baik oleh orang tuanya. Paman dan tante yang ditempati tinggal juga memberikan perhatian yang baik kepada konseli, karena rasa tanggung jawab kepada orang tua si Konseli. Hal itu salah satunya diwujudkan dengan mengantar dan menjemput konseli hingga tamat SMP. Di awal persekolan di SMK antar jemput itu masih tetap dilakukan, namun hanya bertahan hingga semester awal.

Kondisi/ Situasi Pemicu

Konseli saat ini tinggal dengan menyewa kamar kost bersama adik (SMP) dan Sepupu (Mahasiswa). Tidak tinggal bersama orang tua dalam menjalani kehidupan menjadi nilai lebih dari konseli. Namun disisi lain konseli menjadi tidak mendapatkan perhatian (kasih sayang) yang baik dari orang tua ataupun wali. Perhatian orang tua yang diberikan hanya sebatas pada nilai materil (kiriman Uang) untuk menunjang sekolah si konseli. Tidak adanya pengawasan dan bimbingan langsung dari orang tua inilah yang juga menjadi pemicu munculnya permasalahan yang dihadapi oleh konseli saat ini.

Konseli memilih tinggal dengan menyewa kamar kost dan tidak lagi bersama wali yang sebelumnya dengan alasan sudah tidak merasa cocok lagi dengan mereka. Konseli merasa sering dimarahi oleh Paman dan tantenya. Perhatian yang dulu juga didapatkan dari mereka saat ini tidak lagi didapatkannya.

Setelah ditelusuri lebih jauh (lewat wawancara dengan Wali) diketahui bahwa permasalahan konseli bermula sejak memiliki Laptop. Sejak itu, konseli banyak menghabiskan waktu dengan laptop hingga larut malam, akibatnya konseli terlambat bangun dan terlambat ke sekolah. Kondisi tersebut disikapi baik oleh konseli dengan mengingatkan konseli agar tidak membiasakan perilaku tersebut. Namun, nasihat tersebut dianggap teguran oleh konseli. Hal inilah yang dijadikan alasan oleh konseli untuk meninggalkan Paman dan tante yang menjadi walinya selama ini.

Akar Internal Problem

Akar dari permasalahan yang dialami oleh konseli saat ini adalah sulit tidur di awal waktu, akibatnya konseli terlambat bangun dan akhirnya menyebabkan konseli terlambat ke sekolah. Kejadian yang terus berulang-ulang ini akhirnya menyebabkan konseli menjadi anak yang paling sering tidak masuk ke sekolah untuk mengikuti pelajaran.

Hasil penelitian yang dilakukan Mary Carskadon (Detik Health, 2010) profesor psikiatri dari Brown University tahun 2005 mencatat ada sekitar 30 persen remaja yang mengalami gangguan tidur. Usia remaja ini berkisar 10-18 tahun. Anak-anak usia remaja ini membutuhkan tidur waktu tidur 9-10 jam sehari. Usia remaja adalah saat anak mengalami pubertas. Memasuki periode ini, tubuh remaja akan menyesuaikan diri termasuk waktu jam tidurnya. Saat pubertas tubuh remaja akan mengalami pergeseran waktu tidur malam sekitar 2 jam dan kebanyakan tidak akan bisa tidur di bawah jam 11 malam. Ketika puber, tubuh remaja akan mengalami perubahan hormon dan hormon melatonin yang merangsang tubuh cepat tidur juga tertunda produksinya.

Menurut Fifi P Jubilea,1) (kesekolah.com, ______ ) anak-anak remaja memang susah sekali tidur di awal waktu. Oleh karena itu, apa yang harus orangtua lakukan sebaiknya adalah menyibukkan anaknya dengan berbagai kegiatan di sore hari yang utamanya aktivitas yang bersifat fisik, seperti main bola, taekwondo atau bela diri lain yang dapat menguras tenaga.

Kesulitan tidur di awal waktu yang dialami oleh konseli diakibatkan oleh kebiasaan buruk konseli, yakni menghabiskan banyak waktu bermain dengan laptop-nya, kebiasaan tersebut dilakukan sepulang sekolah sampai larut malam. Akibatnya, konseli menjadi sering terlambat tidur. Kebiasaan yang terus menerus ini akhirnya menjadi sesuatu yang lumrah dan pada akhirnya tubuh konseli meresponnya sebagai hal yang biasa.

Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa konseli mengalami tidak mampu membuat perencanaan waktu yang baik sehingga banyak menghabiskan waktu pada kegiatan yang tidak bermanfaat hingga larut malam. Akibatnya konseli menunda  tidur di awal waktu sehingga mengakibatkan diri konseli tidak mampu bangun di pagi hari. Ketidak mampuan bangun cepat di pagi hari ini akhirnya berakibat pada kehadiran si konseli di sekolah.

skema

2.4. Prognosis

Berdasarkan permasalahan yang dihadapi oleh konseli, maka ditawarkan beberapa alternatif untuk sebagai upaya mengatasi dan memperbaiki situasi permasalahan yang dihadapi oleh konseli. Adapun allternatif tersebut adalah :

  1. 1.      Client-Centered Therapy

Sofyan S. Willis (2009)  mengungkapkan bahwa Client Centered Therapy adalah suatu metode perawatan psikis yang dilakukan denganc ara berdialog antara konselor dengan klien, agar tercapai gambaran yang serasi antara ideal self (diri klien yang ideal) dengan actual self (diri klien sesuai kenyataan yang sebenarnya). Pada penggunaan tehnik konseling ini maka konselor akan berusaha mengatasi permasalahn konseli dengan lebih banyak berdialog dengan konseli.

  1. 2.      Behavioral Therapy

Behavioral therapy adalah salah satu teknik yang digunakan dalam dunia konseling untuk membantu siswa mengatasi permasalahannya dengan cara-cara yang lebih bisa dikontrol. Aliran ini dikembangkan oleh beberapa tokoh diantaranya Ivan Pavlov, B.F Skinner, dan Wolpe.

Dalam pandangan behavioral, perilaku dipandang sebagai respon terhadap stimulasi atau perangsangan eksternal dan internal. Karena itu tujuan terapi adalah untuk memodifiaksi koneksi-koneksi dan metode-metode  (R-S) Stimulus-Respon (Sofyan S. Willis, 2009).

Dengan berdasar pada aliran behavioral therapy, kebiasaan-kebiasaan buruk konseli berusaha dihilangkan dan diganti dengan kebiasaan yang bersifat positif, dengan kata lain memberikan latihan manajemen diri kepada konseli.

BAB III

PELAKSANAAN DAN EVALUASI

  1. A.    Pelaksanaan

Setelah mengidentifikasi permasalahan siswa dan melewati tahap prognosis, maka langkah selanjutnya adalah melakukan treatment berdasarkan hasil yang didapatkan dari prognosis

Adapun upaya pemberian bantuan yang dipilih adalah konsep behavioral therapy. Dalam pandangan behavioral, perilaku dipandang sebagai respon terhadap stimulasi atau perangsangan eksternal dan internal. Karena itu tujuan terapi adalah untuk memodifiaksi koneksi-koneksi dan metode-metode  (R-S) Stimulus-Respon (Sofyan S. Willis, 2009).

Dalam rangka tersebut maka kdiberikan kesempatan untuk membuat perencanaan-perencanaan yang baik agar bisa mengatasi permasalahan yang dialami. Perencanaan-perencanaan (stimulus) tersebut dilakukan agar kebiasaan buruk konseli untuk tidur di waktu yang larut dapat dihilangkan.

Dalam usaha pemberian bantuan tentu dilaksanakan dengan tidak begitu saja, oleh karena itu perlu adanya perencanaan dalam pelaksanaanya. Walaupun demikian tidak semua perencanaan tersebut dapat terlaksana dengan baik disebabkan kendala-kendala serta rintangan yang menghambat.

Adapun beberapa langkah yang dilakukan kepada konseli yakni :

  1. Konseli melaksanakan konseling individual dengan tehnik dari Person Centre Therapy  yaitu dengan Wawancara. Tujuannya adalah mengeksplorasi lebih jauh tentang hal-hal yang dirasakan konseli terkait dengan permasalahan tersebut.
  2. Konselor memberikan informasi tentang akibat yang dapat ditimbulkan dari kebiasaan buru konseli
  3. Konselor menjelaskan proses dengan teknik behavioral therapy
  4. Membuat kesepakatan dengan konseli untuk menyelesaikan permasalahannya
  5. Setelah konseli setuju maka ditetapkan waktu penyelenggaraan proses tersebut.
  1. B.     Evaluasi

Setelah memberikan bantuan kepada konseli  baik berupa layanan informasi maupun pemberian layanan konseling, maka dapat disimpulkan bahwa proses treatment yang diberikan tidak memberikan hasil yang signifikan terhadap perubahan perilaku konseli.

Banyak hal yang menjadi faktor penentu berhasil tidaknya proses treatment yang diberikan. Demikian pula yang terjadi pada proses treatment konseli dalam laporan studi kasus ini.

Adapun faktor-faktor yang menjadi penyebab tidak berhasilnya proses treatment adalah :

  1. Tidak maksimalnya konseling Individual yang dilaksanakan
  2. Waktu pelaksanaan treatment yang sangat, 5 hari, tidak memungkinkan untuk merubah perilaku negatif konseli yang sudah sekitar 4 bulan dialaminya.
  3. Belum terciptanya kesadaran dalam diri konseli untuk merubah perilaku negatif yang selama ini dipertahankan

BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan proses pelaksanaan konseling yang dilakukan dan dari data yang diperoleh melalui wawancara dan observasi  maka dapat disimpulkan bahwa konseli mengalami gangguan sulit tidur yang menyebabkannya tidak mampu bangun cepat dipagi hari. Akibatnya konseli sering terlambat dan bahkan tidak masuk ke Sekolah samasekali, bahkan terkadang konseli tertidur di dalam kelas akibat mengantuk.

Adapun pemberian bantuan yang diberikan adalah :

  1. Melakukan konseling Individual dengan tehnik Person Centre Therapy
  2. Pemberian informasi
  3. Manajemen Waktu konseli

Rekomendasi Tindak Lanjut

Adapun rekomendasi tindak lanjut yang diberikan untuk membantu konseli adalah:

  1. Kepada guru pembimbing yang ada di sekolah untuk senantiasa memantau perkembangan siswa dari segi kognitif maupun afektif.
  2. Pelaksanaan proses konseling individual yang berkesinambungan sehingga konseli bisa menyampaikan permasalahan-permasalahan yang dialami untuk mencegah timbulnya permasalahan yang lebih besar.
  3. Kepada orang tua siswa/ Wali agar senantiasa memperhatikan kebiasaan konseli dirumah dan membimbing konseli dengan cara yang baik.

Daftar Pustaka

Daruma, Razak., Samad, Sulaiman,. Sofiani, Sri. 2004. Studi Kasus. Makassar : Penerbit FIP UNM

Dwi Santosa. 2013. Defenisi, Struktur, dan Manfaat Wawancara. From: http://www.galeripustaka.com/2013/03/definisi-struktur-dan-manfaat-wawancara .html. di akses pada : 24 Mei 2013

Fifi P.Jubilea. Ketika Anak Selalu Terlambat Datang Sekolah. From :http://www.kesekolah.com/artikel-dan-berita/pendidikan/ketika-anak-selalu-terlambat-datang-sekolah.html di akses pada : 8 Mei 2013

Health, Detik. Kenapa Remaja Susah bangun pagi. From : http://health.detik.com/read/2010/04/25/085524/1344835/764/kenapa-remaja-susah-bangun-pagi. di akses pada : 8 Mei 2013.

Kuswanto. Klikbelajar.com. Observasi (Pengamatan Langsung di Lapangan). 2011. From : http://klikbelajar.com/umum/observasi-pengamatan-langsung-di-lapangan/ di akses pada : 24 Mei 2013

Willis, Sofyan S. 2009. Konseling Individual Teori dan Praktek. Bandung : Alfabeta

1)Founder and Conceptor of JISc, penulis artikel konsultasi pendidikan anak, remaja dan keluarga.

 

konseli

Advertisements

About Amirullah Dg Sibali

Tarbiyah is The Plus One

Discussion

No comments yet.

Mari Berikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: