//
you're reading
Bimbingan Konseling, Pendidikan, Suara Daeng Sibali, Tugas Kuliah, Universitas Negeri Makassar

Studi Kasus

disusun oleh M. Amirullah (Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling UNM Makassar 2010)

Dalam rangka melaksanakan proses bimbingan dan konseling di sekolah, maka konselor atau guru pembimbing memerlukan banyak kemampuan untuk membekali diri dalam memberikan layanannya. Salah satu hal penting yang harus dibekali pada diri guru bimbingan dan konseling adalah menguasai metode pengumpulan data.

Salah satu metode pengumpulan data dalam layanan bimbingan dan konseling adalah studi kasus (case study). Menurut Bimo Walgito (2009: 92) case study ini merupakan suatu metode untuk menyelidiki atau mempelajari suatu kejadian mengenai perseorangan (riwayat hidup).

  1. Pengertian Studi Kasus

–          Tinjauan Leksikal

menurut A. Zani Pitoy ( 2012) Istilah ‘studi kasus’ berasal dari bahasa inggris dari frase “case study’ (=studi kasus). Jika di urai kata ‘case’ dan ‘study; mempunyai arti dan makna sendiri. Case, Kamus Oxford (1991) memaknai sebagai : example of the occurrence of something; set of facts; matter being investigated by the police, yang dapat dapat diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia berturut-turut : contoh kejadian sesuatu; serangkaian kenyataan-kenyataan; perihal yang sedang di periksa polisi.

Sedang kata ‘study’ dimaknai oleh Kamus tersebut antara lain : process of learning something;book etc, resulting from research;give time and attention to learning something; examine carefully; yang dapat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai serangkaian kegiatan mempelajari sesuatu; buku dll hasil penelitian; mencurahkan waktu dan perhatian untuk mempelajari sesuatu; memeriksa dengan seksama.

Mencermati makna kamus diatas dapat diartikan bahwa studi kasus mengandung makna serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dengan penuh perhatian terhadap sesuatu fenomena aktual yang menjadi fokus perhatian

–          Pendapat Ahli

Hornby, Gatenby, dan Wakefield (Razak, Sulaiman, dan Sri, 2004) memberikan pengertian kasus (case) adalah sejumlah fakta atau kondisi khusus yang berhubungan dengan seseorang (person) atau sesuatu (thing) yang menyatakan suatau kejadian atau sesuatu hal yang terjadi. Sedangkan kasus (case study) adalah penelitian atau penelaahan tentang suatu kasus.

Goode dan Hatt (Razak, Sulaiman, dan Sri, 2004) mengemukakan bahwa studi kasus merupakan pendekatan yang memberi gambaran suatu unitk sosialsebagai keseluruhan dan merupakan cara dalam mengorganisasikan data sosial dan objek sosial yang dipelajari.

Sadhu dan Sing menyatakan bahwa studi kasus adalah bentuk analisis kualitatif dengan melakukan observasi yang cermat dan lengkap tentang seorang manusia, satu situasi atau satu lembaga. Pendapat tersebut menekankan pada objek pelaksanaan studi kasus.

Soli Abimanyu (1983: 104) mengemukakan bahwa studi kasus (case study) adalah laporan tentang suatu study pendidikan yang intensif dari banyak aspek penting tentang beberapa unit masalah suatu individu, suatu kepentingan, suatu masyarakat, suatu lembaga dan sebagainya.

Dari beberapa pengertian ahli di atas dapat disimpulkan bahwa studi kasus merupakan suatu bentuk pendekatan terhadap suatu unit, individu ataupun suatu masyarakat dan lembaga, secara cermat dan lengkap untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh tentang objek yang dibahas.

  1. B.      Objek Studi Kasus

Menurut S. Nasution (Razak, Sulaiman, dan Sri, 2004) objek pelaksanaan studi kasus adalah (a) seorang individu atau sekelompok individu (misalnya: satu keluarga); (b) segolongan manusia (misalnya: guru, suku Makassar atau suku Bugis; (c) lingkungan hidup manusia (misalnya: Desa, sektor Kota), dan (d) lembaga (misalnya: perkawinan, perceraian)

Sedangkan menurut Pauline V. Young (Razak, Sulaiman, dan Sri, 2004) mengelompokkan objek studi kasus dalam dua kelompok, yaitu (a) kelompok sosial kecil, seperti: suatu keluarga, gang, dsb; (b) kelompok sosial yang besar, seperti : sekte, pengadilan, dsb.

Dalam bidang bimbingan dan konseling objek studi kasus tidak lain adalah individu dengan aneka ragam sebutannya. Pada umumnya data individu diperoleh dari berbagai pihak seperti orang tua, guru, psikolog, psikiater, dsb. Adapun data yang dikumpulkan dalam studi kasus menurut Razak, Sulaiman, dan Sri (2004) berkisar pada :

  1. Identifikasi diri (nama, umur, seks, dsb)
  2. Latar belakang keluarga (pekerjaan dan pendidikan orang tua, besarnya keluarga, dsb)
  3. Keadaan kesehatan dan perkembangan jasmani
  4. Kemampuan dasar (bakat, minat, sikap, dsb)
  5. Perilaku sosial (sikap terhadap orang lain)
  1. C.    Tipe-tipe Murid yang Perlu Mendapat Studi Kasus

Menurut Soli Abimanyu (1983) tipe-tipe murid yang perlu dibuat studi kasusnya adalah sebagai berikut :

  1. Murid-murid yang superior dan brilliant serta well-adjusted
  2. Murid-murid yang average
    1. Murid-murid yang devective, delinquent, dan mal-adjusted yang memerlukan bantuan khusus
  1. D.    Metode Pengumpulan Data dalam Studi Kasus

Berikut ini beberapa metode pengumpulan data dalam studi kasus menurut (Razak, Sulaiman, dan Sri, 2004:12-14)

–          Wawancara

–          Observasi

–          Kuesioner

–          Tes

–          Otobiografi

–          Anekdotal

–          Sosiometri

–          Studi dokumentasi

  1. E.     Langkah-langkah Studi Kasus

Langkah-langkah studi kasus menurut Carter V. Good dan Douglas E. Scates (Razak, Sulaiman, dan Sri, 2004: 15-16) adalah sebagai berikut :

  1. Rekognisi dan determinasi suatu gejala yang akan diselidiki
  2. Pengumpulan data yang berhubungan dengan faktor-faktoratau keadaan sekitar yang berhubungan dengan gejala
  3. Diagnosis atau identifikasi faktor-faktor penyebab sebagai penyebab suatu dasar untuk remidi atau treatment pengembangan
  4. Apliaski remidi atau tindakan penyesuaian
  5. Tindak lanjut untuk menentukan efektivitas tindakan penyembuhan atau pengmbangan

Sedangkan menurut Fenton (Razak, Sulaiman, dan Sri, 2004: 16) menggunakan tahapan-tahapan analisis masalah secara detail untuk mendiagnosis dan merencanakan pemberian bantuan pada anak yang mengalami masalah, sebagai dasar untuk membimbing individu, yaitu :

Langkah 1       : Memperhatikan status keadaan, situasi, atau unit

Langkah 2       : Melakukan pengumpulan data

Langkah 3       : Mendiagnosis dan mengidentifikasi faktor-faktor penyebab

Langkah 4       : Melaksanakan terapi atau langkah penyesuaian

Langkah 5       : Melakukan tindak lanjut

 

  1. F.     Keuntungan dan Kelemahan Studi Kasus
  2. Keuntungan

Menurut S. Nasution (Razak, Sulaiman, dan Sri, 2004) studi kasus memiliki lima keuntungan, yaitu :

  1. Setiap aspek kehidupan sosial dapat diselidiki dengan studi kasus, kecuali bila ada rintangan dalam pengumpulan data/ keterangan, umpamanya: alasan politik, rahasia militer, tidak tersedianya keuangan, waktu atau tenaga
  2. Dengan studi kasus, aspek spesifik dari suatu topik dapat diselidiki secara mendalam
  3. Dapat dipergunakan berbagai alat pengumpulan data, seperti observasi, wawancara, kuesioner, studi dokumenter, serta alat pengumpul data lainnya untuk memperolej informasi banyakanya, agar masalah itu dapat dipahami secara mendalam
  4. Studi kasus dapat menguji kebenaran teori bila studik kasus yang dilaksanakan atas dasar teori tertentu. Artinya, apakah dalam kasus yang diselidiki kebenaran suatu teori terbukti ataukah ternyata bahwa teori mendasari tidak benar? Demikian pula hasil studi kasus dapat membentuk generalisasi-generalisasi tertentu.
  5. Studi kasus dapat dilaksanakan dengan biaya yang relatif murah, lebih-lebih bila dilaksanakan pada tempat kerja. Umpamanya konselor meneliti murid sekolah dimana dia bekerja. Demikian juga jenis metode pengumpulan data yang dipergunakan menentukan tinggi rendahnya biaya penelitian.

Adapaun kelemahan yang dikemukakan oleh S. Nasution, yaitu:

  1. Generalisasi yang berdasarkan studi kasus disangsikan kebenarannya bagi populasi yang lebih luas. Ini disebabkan studi kasus mempelajari aspek-aspek spesifik yang khas atau unik. Kita mengetahui bahwa tidak ada dua peristiwa yang persis sama. Semua adalah unik dan kahas, apalagi dalam aspek kemasyarakatan yang sangat kompleks
  2. Studi kasus membutuhkan waktu yang lama bila dibandingkan dengan survey, sebab studi kasus meneliti suatu kasus secara mendalam. Untuk itu diperlukan metode pengumpulan data yang teliti dengan mengadakan wawancara secara pribadi, melaksanakan observasi dalam waktu yang lama.

Daftar Pustaka

 Bimo Walgito. 2009. Bimbingan + konseling (Studi & Karir). Penerbit Andi: Yogyakarta

Razak., Sulaiman., dan Sri. 2004. Studi Kasus. Penerbit FIP UNM: Makassar

Soli Abimanyu. 1983. Tehnik Pemahaman Individu (TEKNIK NON TESTING). Oleh Drs. Soli Abimanyu: IKIP UJUNG PANDANG

A. Zani Pitoy.2012. pengertian dan Defenisi Studi Kasus. From :http://www.kotepoke.org/ 2012/06/pengertian-dan-definisi-studi-kasus.html. diakses pada tanggal 20 Desember 2012.

Advertisements

About Amirullah Dg Sibali

Tarbiyah is The Plus One

Discussion

5 thoughts on “Studi Kasus

  1. nyimak daeng, artikel yang bermanfaat

    Posted by Jarimanis Indonesia | February 4, 2013, 5:45 pm

Mari Berikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: