//
you're reading
Daeng, Kabupaten Gowa, Kisah, Kota Makassar

Orang Makassar Tidak Makan Kalau Bukan Orang Jawa

Postingan ini saya tulis segera setelah menyantap gado – gado di salah satu tempat makan di sekitar Sungguminasa. Ketika sedang asyik memainkan sendok dan garpu di atas sepiring gado – gado, tiba – tiba saya teringat perkataan salah seorang Mbak penjual somay sekitar dua tahun lalu.

“Orang Makassar tidak Makan kalau Bukan Orang Jawa”, ya kurang lebih begitu redaksinya. Sempat tersenyum saya bersama teman-teman ketika mendengar hal itu, karena sepertinya memang seperti itu, walaupun itu bukanlah sebuah kemutlakan.

Saat makan gado – gado siang ini konsentrasi saya agak terbagi antara menikmati santap siang  dan memikirkan beberapa warung- warung yang dikelola oleh teman- teman perantau ulet dari tanah Jawa. Penyebabnya ya karena itu tadi, teringat perkataan si Mbak penjual somay.

Dua tahun berselang setelah perkataan tersebut kudengar, aku kembali teringat hal itu ketika mendengar pemilik tempat makan berbicara dalam bahasa jawa.

Tidak bisa dipungkiri, di kota Makassar dan sekitarnya kini banyak bermunculan warung –warung makanan yang menawarkan menu – menu nikmat untuk disantap. Beberapa yang sering kusinggahi di antaranya adalah Ayam Bakar Mas Abdullah Surabaya, Warung Bakso Solo, Nasi Kuning Jawa Barat, Nasi Goreng Jakarta, dan Warung Bakso Mas Untung.

Sebenarnya masih banyak sih yang lain, tapi yang sering aku sambangi untuk mengisi perut adalah yang kusebutkan di atas.

Warung – warung Makan yang di kelola teman – teman perantau dari tanah Jawa seolah berlomba dengan pemilik warung – warung lokal, seperti warung coto Makassar, Sop Saudara Pangkep, Ikan Bakar, Pisang Epe, Warung mi titi, hidangan pallu basa, dan tempat makan kapurung serta barobbo Khas Palopo.

Semua warung makan di atas kadang memancing saya untuk berwisata kuliner :D. Penyebabnya ya karena sekali coba rasanya pengen kembali lagi.

Saya tidak asal ngomong lho, soalnya para sambalu (langgganan) banyak yang antri di warung – warung tersebut, baik warung menu lokal mapun menu luar sulsel,  untuk mendapatkan makanan pengisi perut.

Advertisements

About Amirullah Dg Sibali

Tarbiyah is The Plus One

Discussion

19 thoughts on “Orang Makassar Tidak Makan Kalau Bukan Orang Jawa

  1. coto Makassar, Sop Saudara Pangkep, Ikan Bakar, Pisang Epe, hidangan pallu basa, dan barobbo Khas Palopo … terus ternag aku belum pernah merasakan masakan ini, asing namnya di telingaku, kaykany aenak juga ya, jadi pengen nyoba

    Posted by Ely Meyer | August 31, 2012, 1:45 pm
  2. palbas serigala… kaga ada yang ngalahin tuh 😀

    Posted by Red | September 1, 2012, 12:21 am
    • dengar- dengar begitu… tapi saya belum pernah coba yang di jl. Serigala, soalnya kita musti menunggu lama….
      makanya saya biasanya pilih yang di tempat lain aja yang ada di Veteran…

      Posted by Amirullah Daeng Sibali | September 1, 2012, 6:16 am
  3. sya belum pernah merasakan masakan Makasar….lebih sering menikmati masakan padang… 😀

    Posted by bensdoing | September 1, 2012, 11:08 am
    • 🙂 oh ia saya lupa,Masakan padang juga banyak beredar di kota makassar,… menambah banyaknya menu pilihan.
      menu masakan Jawa, Makassar, Bugis, Sunda, Padang, masakan lain semoga menyusul juga merambah kota Makassar. biar g usah keliling nusantara untuk menikmati makanan2 tersebut, Hehehe…

      Posted by Amirullah Daeng Sibali | September 1, 2012, 9:50 pm
  4. makanan khas bugis saya belum pernah coba gan …

    Posted by uyayan | September 1, 2012, 11:14 am
  5. Ha..ha…ada2 saja, salam sukses Gan

    Posted by H Onnie S Sandi SE | September 20, 2012, 1:26 pm
  6. buat daeng sibali, kayaknya tdk enk di dengar kalau orang makassar tidak makan kalau bukan orang jawa,, sangat rendah kedengarannya

    Posted by anak makassar | October 19, 2012, 8:51 pm
    • buat daeng sibali kayaknya tidak enak kalau orang makassar tidak makan kalau bukan orang jawa

      Posted by anak makassar | October 19, 2012, 8:58 pm
    • tabe daeng, ki pammopporanga…
      tidak ada maksud saya yang seperti itu. Yang coba saya angkat dalam tulisan ini adalah persaingan sehat warung-warung makanana Khas Makassar dan Bugis yang bersaing secara sehat dengan warung-warung luar sulsel 😀

      Posted by Amirullah Daeng Sibali | October 20, 2012, 10:31 am
    • tabe daeng, kipammopporanga…
      Yang coba saya angkat hanyalah pesan bahwa warung Makassar dan Bugis yang bersaing secara sehat.

      Posted by Amirullah Daeng Sibali | October 20, 2012, 11:07 am
  7. ri pakasiri’ki tau mangkasaraka punna kammanjo

    Posted by anak makassar | October 19, 2012, 8:53 pm
    • kipammopporanga daeng. tena na kubermaksud kamma anjo. ki baca ngaseng mi rong jari substansi na yang kumaksud ka lalang ri tulisanga kulle tongi ki gappa,

      Posted by Amirullah Daeng Sibali | October 20, 2012, 11:08 am

Mari Berikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: