//
you're reading
Hanya Opini, Kisah, Kota Makassar, Opini, Suara Daeng Sibali, suku Makassar, Sulawesi Selatan

Daeng Oh Daeng…

Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan kata yang satu ini. Terlebih lagi bagi orang-orang yang bermukim di daerah Sulawesi selatan. Daeng adalah panggilan buat orang-orang Makassar. Sebenarnya kata daeng juga dikenal dan digunakan oleh orang-orang Bugis, tapi mereka tidak menggunakan daeng tapi deng.

Kali ini saya tidak akan banyak menyinggung tentant Deng, karena tidak begitu tahu tentang Deng bagi orang-orang Bugis, tapi pembahasan ini akan focus ke kata daeng bagi orang Makassar.

Daeng kalau sederhananya bisa disamakan dengan Abang bagi orang Medan, Mas bagi Orang Jawa, atau Akang bagi orang Sunda. Ya, semacam panggilan yang lebih mengkarabkanlah.

Namun sayang seribu sayang, kata Daeng kini mulai bergeser dari makna yang sesungguhnya. Bahkan di Kota Makassar, yang dikenal sebagai kota DAENG, kata Daeng lebih di stigmatisasi sebagai sebuah status sosial.

Kata Daeng lebih akrab disebutkan kepada para tukang dan pedagang kelas bawah ataupun supir-supir angkutan kota. Misalnya tukang sayur dipanggil daeng gangang (daeng sayur), dan penjual ikan  (daeng juku’) sedangkan bagi supir angkot dikenal dengan sebutan daeng pete’-pete’ (pete’-pete’ adalah sebutan angkot di kota Makassar). Hal inilah yang kemudian membuat anak-anak muda Makassar merasa canggung dan tidak PD ketika dipanggil dengan sebutan Daeng.

Ini sebenarnya merupakan sebuah kesalahan mengingat status daeng yang diberikan kepada mereka (pedagang, sopir, dll) adalah karena panggilan daeng merupakan panggilan yang sopan. Orang Makassar biasa menyebut pa’daengan  dengan sebutan areng alusu’ atau nama halus. Misalnya ketika kita memanggil penjual ikan dengan cara seperti ini “Oo.. pabalu’ juku’ ta’siapa jukutta’?” artinya “hai penjual ikan, berapa harga ikanmu?” akan lebih sopan terdengar jika kita memanggil dengan sapaan daeng sehingga terdengar lebih menghargai contohnya “daeng berapa harga ikan ta’?” (daeng berapa harga ikan anda?).

Sebenarnya daeng ada dua macam. Pertama daeng sebagai sebutan kepada orang yang lebih tua atau yang dituakan. Sifatnya sama dengan Mas bagi orang Jawa, atau Akang bagi orang Sunda.. Daeng sebagai panggilan kepada orang yang lebih tua dipergunakan merata kepada pria ataupun wanita. Daeng yang kedua atau yang lebih spesifik adalah bagian dari pa’daengang (Nama Daeng). Pa’daengang ini merupakan areng alusu atau panggilan halus kepada orang-orang makassar. Pa’daengang ini biasanya mengekor di depan nama asli yang bersangkutan. Misalnya Hamdana Daeng Puji atau Amin Daeng Kulle

Pa’daengang yang melekat pada nama seseorang ini biasanya berupa do’a atau pengharapan kepada yang bersangkutan misalnya:, Daeng Bau, agar yang bersangkutan memberikan nama harum bagi keluarga dan masyarakatnya. Daeng Nisokna, yang diimpikan, yang dicita-citakan.. Daeng Nikeknang, agar selalu dikenang. Daeng Kanang agar ia cantik, Daeng Baji agar dia baik hati, Daeng Puji agar dia menyenangkan.

Banyaknya orang yang tidak mengetahui makna dari daeng ini karena ketidaktahuan mereka tentang budaya suku makassar. Ketidaktahuan ini menyebabkan terjadinya interpretasi yang salah terhadap panggilan daeng. Muncullah kesan bahwa daeng adalah status rendahan, status pekerjaan bawah, panggilan orang-orang tua, dan banyak lagi kesan negatif yang lain.

Terlepas dari ketidak tahuan khalayak umum akan makna daeng tersebut. Saya ingin sedikit menceritakan pengalaman saya tentang daeng. Belakangan ini Pa’Daengang atau kata daeng mulai lagi gencar di dengung-dengungkan oleh kalangan-kalangan pemuda, khususnya bagi pemuda terpelajar. Hal ini bisa saja dilatar belakangi oleh pemahaman akan makna daeng bagi mereka dan keinginan kuat untuk melestarikannya sehingga pa’daengang tidak tertelan zaman modern. Sebaliknya orang-orang yang tidak terpelajar dari kalangan suku Makassar mulai risih dengan panggilan daeng ini. Bahkan kalangan tukang parkir yang saya pernah temui lebih enjoy dengan panggilan abang.

Saya pribadi kini tidak malu-malu lagi menggunakan pa’daengang  dan berharap maknanya kelak dapat kembali ke yang seharusnya. Harapan saya kedepannya kata Daeng ini bisa dikenal dan dipahami baik oleh masyarakat kelak. Khususnya orang-orang yang tinggal di Kota Makassar. Karena Julukan Makassar sendiri adalah Kota Daeng. Percuma label ini diberikan jika Orang Makassar sendiri sudah tidak mau menggunakan nama Daengnya (pa’daengang). Yang perlu juga digaris bawahi adalah kata daeng merujuk pada harapan dan do’a seperti yang telah kita bahas di atas. 1000 Daeng sama dengan 1000 Harapan!!!

 

 

Advertisements

About Amirullah Dg Sibali

Tarbiyah is The Plus One

Discussion

No comments yet.

Mari Berikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: