//
you're reading
Catatan, Konseling, Pendidikan, psikologi Pendidikan

Ego Positioning

Pada tanggal 16 maret 2011 kemarin (wah udah lama banget ya….) aku sempat menyaksikan acara eightEleven yang tayang di MetroTV kira-kira jam-jam sebelasanlah….

Tema yang dibahas saat itu adalah Ego Positioning, mendengar kata Ego tentu aku sangat Tertarik karena dalam kapasitas ku sebagai Mahasiswa Bimbingan Konseling kata ini jelas sangat akrab ditelinga.

Ya udah aku putuskan untuk mengikuti program tersebut sampai selesai. Dalam kesempatan tersebut yang menjadi narasumber adalah Alexander Sriewijono, seorang psikolog dan penulis, dengan ditemani oleh Prabu Revolusioner sebagai pemandu acara.

Dari dialog tersebut saya dapat mendapatkan informasi tentang hal yang menyebabkan seseorang gagal untuk berinteraksi dengan orang lain. Yaitu karena penempatan ego-nya lah yang tidak tepat.

Ada empat tipe penempatan ego yang dipaparkan pada kesempatan tersebut

I am OK you are not OK                                                                                                                                                                

Ego positioning tipe ini melihat orang lain sebagai pribadi yang kelasnya berada dibawah dirinya. Contoh seorang bos dan anak buahnya, atau si kaya dan si miskin. Jika si bos dan si kaya memandang dirinya sebagai pribadi yang OK dan memandang komunikannya sebagai pribadi yang tidak ok maka akan dapat mengakibatkan interaksi yang tidak sehat karena orang yang merasa OK dan malihat orang lain tidak Ok akan mengintimidasi dan merendahkan orang lain.

I am not Ok you are OK

Kebalikan dari ego positioning tipe  1, tipe ini melihat dirinya sebagai pribadi yang sangat jauh berada di bawah orang lain. Hal ini tentu akan mengakibatkan perasaan minder dan perliaku merendah yang berlebihan kepada orang lain

I am not OK you are not OK

Ego Positioning tipe ini sangat jelek efeknya, dikarenakan kita melihat diri kita sebagai pribadi yang memiliki level bawah serta melihat orang lain sama buruknya dengan kita

I am ok you are OK

Tipe yang terakhir inilah yang paling tepat dan sudah seharusnya kita gunakan dalam berinteraksi dengan orang lain. Sehingga perilaku yang arogan serta perasaan merendah yang berlebihan tidak menjadi faktor penghalang rusaknya hubungan komunikasi antara satu orang dengan orang lainnya.

Contoh yang diberikan narasumber pada waktu itu adalah seorang pelanggan di restoran yang dapat menghargai pekerjaan pelayan direstoran tersebut karena mampu menempatkan ego-nya pada posisi I am Ok you are OK, demikian pula sebaliknya sang pelayan kepada Pelanggan.

sumber gambar : http://soundcloud.com/weareok

Advertisements

About Amirullah Dg Sibali

Tarbiyah is The Plus One

Discussion

No comments yet.

Mari Berikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: