//
you're reading
Umum

Jangan Terpana dengan Masa Lalu Karena Saat Sekaranglah yang Terpenting

Betullah kata orang2 tua kita dahulu bahwa orang-orang Makassar adalah pelaut-pelaut ulung. Entah gerangan apa yang mendorong mereka memiliki keinginan kuat mengarungi samudra dan ombak tinggi merantau ke negeri orang.

Adalah sangat fantastis bagi kita yang hidup di masa sekarang untuk membayangkan cerita-cerita petualangan mereka yang sangat jauh itu dengan hanya menggunakan perahu khas Makassar yang sangat sederhana. Menurut pelras, Orang-orang Makassar telah meninggalkan kampung halaman mereka begitu jauh dan begitu lama. Bahkan saking lamanya, mereka melakukan perkawinan dengan warga pribumi dan memiliki keturunan di negeri yang mereka datangi. Mereka memiliki ketegaran hidup dan semangat pantang menyerah. Gelombang tinggi dan laut yang sangat luas bukanlah hambatan bagi mereka untuk mencapai negeri yang mereka tuju. kegairahan dan kekerasan jiwa mereka mengundang decak kagum masyarakat pribumi tempat yang mereka singgahi. Yang lebih mengagumkan adalah di tempat baru tersebut mereka masih mempertahankan sifat-sifat asli mereka sebagai orang Makassar. Siri’ napacce telah tertanam kuat dalam jiwa mereka dan menjadi patrol mereka dalam menjalani hidup meskipun itu di negeri asing. Keberanian, kekasaran dan kematianlah yang akan mereka pilih jika mereka di perhadapkan pada pilihan yang rumit. Apalagi kalau itu menyangkut dengan harga diri dan kepercayaan yang di anutnya.

Di bawah ini, adalah sebuah tragedi mengharukan sekaligus mengagumkan dari 120 orang Makassar yang mempertahankan harga diri dan kehormatan mereka di negeri Muangthai. Kisah ini adalah kisah nyata yang di kutip dari buku Kisah-Kisah Bijak Orang Sulsel karangan A. Shadiq kawu yang mengambil referensi dari sejarawan Perancis Crishtian Pelras.

Pada Abad 17, sebanyak 120 orang Makassar di bawah pimpinan Daeng Mangalle melakukan perlawanan hingga nafas terakhir melawan gabungan armada pasukan Perancis-Inggris dan Muangthai di Ayuthia. Ayuthia adalah sebuah kota niaga kecil yang terkenal di abad 17 di kerajaan Muangthai. Peperangan tak seimbang itu mengakibatkan musnahnya semua orang makassar dalam konfik yang panjang setelah berhasil membunuh 1000 orang dari pihak musuh. Berapa jumlah armada yang mereka lawan?? sekitar 4000 pasukan dengan senjata lengkap, senapan api dan meriam, sementara orang Makassar hanya terdiri atas 120 orang di bawah pimpinan Daeng Mangalle dengan senjata badik, keris dan tombak. Fantastis memang tapi ini adalah fakta sejarah yang di catat oleh Crishtian Pelras. Pelras telah meneliti berbagai literatur berbahasa Perancis tentang jalannya peperangan tersebut. Kedatangan orang makassar di Muangthai menurut Pelras dimulai sekitar pada tahun 1664. Sebuah rombongan kecil yang terdiri atas 250 orang pria, wanita dan anak-anak datang dari Pulau Jawa dipimpin seorang Pangeran Makassar yang mengasingkan diri dari Makassar 3 tahun sebelumnya. Selanjutnya, Gervaise melukiskan kedatangan mereka di sambut baik oleh Raja Narai dan bahkan mereka diberi pemukiman di pinggir sungai bertetangga dengan perkampungan orang Melayu. Kebetulan orang Melayu dan Makassar sama-sama memeluk agama Islam. Meskipun awalnya hubungan orang-orang Makassar sangat baik dengan warga pribumi di Muangthai, sebuah konflik kecil pada tahun 1686 terjadi. Konflik tersebut kemudian melahirkan sebuah pemberontakan orang Makassar terhadap raja Narai. Konflik tersebut di awali oleh keinginan Orang Makassar mempertahankan kehormatan mereka. Saat itu, Orang Melayu dan Campa merencanakan pemberontakan terhadap Raja Narai. Rencana pemberontakan ini diketahui oleh Pangeran Makassar. Singkat cerita, rencana pemberontakan tersebut kemudian bocor ketelinga Raja Muangthai. Meskipun bukti kongrit keterlibatan orang Makassar di pemberontakan tersebut tidak ada tetapi oleh Raja Narai, ketiga suku tersebut di panggil bersama-sama untuk meminta maaf kepada Raja dan niscaya mereka akan di ampuni. Maklumat dari Raja Narai tersebut ternyata di patuhi oleh orang-orang Campa dan orang Melayu tetapi tidak demikian halnya oleh orang Makassar. Pangeran Makassar menolak meminta maaf kepada Raja Narai. Tentang penolakan meminta maaf ini, Pelras menulis : “Hanya pangeran Makassar yang menolak meminta maaf. Alasannya, dia tidak pernah mau memberontak. Hanya saja kesalahannya adalah bahwa dia tidak melaporkan rencana pemberontakan orang Melayu dan Campa kepada Raja Muangthai – alasan sang pangeran karena dia juga tidak mau mengkhianati ke dua sahabatnya dengan membuka rahasia yang telah di percayakan kepadanya. Bagaikan buah simalakama. Tetapi Pangeran Makassar tetap konsisten pada sikapnya, bahwa mereka sama sekali tidak bersalah, karena itu mereka tidak akan memenuhi maklumat Raja Narai, sebab tidak wajar bagi mereka datang meminta ampun dan merendahkan diri kepada raja untuk kesalahan yang tidak mereka lakukan. Penolakan tegas ini, semakin mempertegang hubungan orang Makassar dengan pihak kerajaan Muangthai yang dibantu oleh pasukan Inggris-Perancis. Pemicu pemberontakan dimulai ketika suatu hari sebuah kapal dagang dari Makassar tiba di Muangthai membawa bingkisan raja Gowa untuk Pangeran Makassar. Kedatangan mereka ini kemudian di gunakan oleh pihak Raja Muangthai untuk menahan semua awak kapal karena di khawatirkan akan bergabung dengan kelompok pangeran Makassar yang tidak mau memohon ampun. Dengan siasat licik, patroli kerajaan Muangthai berpura-pura memeriksa surat jalan nakhoda kapal Makassar ketika mereka berniat kembali. Pemeriksaan ini sesungguhnya hanyalah alasan agar semua awak kapal ditahan secara halus. Tatkala nakhoda dan awak kapal mengetahui siasat licik ini, mereka yang waktu hanya berjumlah 6 orang mengamuk di ruang pertemuan pasukan kerajaan. Seorang perwira dan penerjemah perancis berhasil di bunuh. Pergolakan di kapal ini terus berlanjut. Awak kapal lain yang berada di luar gedung serentak maju menggunakan sarung mereka sebagai perisai. Mereka dengan keberanian mengagumkan menerobos pasukan Muangthai dan perancis dan membunuh siapa saja yang mereka jumpai. Konon, menurut Pelras banyak pasukan Muangthai yang lari kocar kacir mencari perlindungan meskipun mereka menggunakan senjata api dan meriam. Peperangan di kapal tersebut kemudian menjalar sampai di perkampungan Makassar tempat dimana Daeng Mangalle dan 120 orang Makassar telah siap dengan badik mereka. Beberapa hari kemudian pertempuran sengit terjadi antara orang Makassar yang berjumlah 120 orang melawan armada gabungan Perancis-Inggris-Muangthai yang berjumlah 4000 orang. Berselang 3 minggu, pemberontakan ini berhasil di padamkan setelah semua lasykar Makassar tewas. Forbin, salah seorang komandan pasukan beberapa tahun kemudian menceritakan tentang keberanian orang-orang makassar yang di saksikannya dengan mata kepalanya sendiri. Katanya : “seumur hidup saya, tidak pernah bertemu dengan lawan yang begitu berani. Maklum, lanjut Forbin, semasa kecil mereka telah di bekali dengan perasaan harga diri (Siri’) yang tinggi sehingga pantang bagi mereka untuk menyerah”. Meskipun sudah tertembak, mereka terus melangkah maju, siap menusuk lawan mereka. Seorang Makassar yang di dapati masih hidup keesokan harinya meskipun terkena 17 tusukan tombak masih berusaha merampas senjata prajurit yang sedang memeriksanya dan berusaha membunuhnya sebelum mati. Pelras juga mengutip pendapat Edwar Udall, saudara sekandung Kapten Henry Udall, perwira Inggris yang tewas oleh tusukan keris orang Makassar di Ayuthia. Bahwa meskipun mereka bersenjatakan keris, mereka berani maju sampai kemuka lobang bedil. Peristiwa Ayuthia nampaknya masih perlu dikaji oleh sejarawan. Sebab menurut Pelras, tragedi ini masih sangat kurang di bahas termasuk oleh sejawaran Sul-Sel sendiri. Tetapi yang jelas, tragedi Ayuthia meninggalkan kesan khusus akan keberanian orang-orang Makassar yang lebih baik mati daripada hidup terhina. Peristiwa ini terjadi di Muangthai pada abad ke 17. Dikutip dari “Kisah Bijak orang Sulsel” Karangan A. Shadiq Kawu. over a year ago · Report Suwandy Mardan Kisah yang sangat Mengagumkan….,Heroik dan penuh dengan Keberanian…,Sifat kesatria seperti ini harus tetap kita jaga dan pertahankan. Rewako Daeng Mangalle…..Semoga Allah menempatkanmu pada posisi yang terpuji, Amin…. over a year ago ·

Report Hijrah Sappe jago…………….na………………….. over a year ago · Report Fearley Arieza Ngomong-ngomong, mungkin keturunan daeng mangalle ato orang bugis-makassar yg (mungkin) selamat yang telat menjadi peduduk Pathani sekarang.. soalnya, saya pas ke sana, ada persamaan dlm beberapa hal… over a year ago · Report Anshar Amin Sikki Harus ada penelitian sejarah ttg hal tersebut. Sebab saat rombongan pertama orang Makassar ke Thailand pada tahun 1664 sudah ada orang Melayu dan Campa disana. Lanjut dari kisah di atas, dari peristiwa pemberontakan Ayuthia, semua orang Makassar tewas dan tidak ada yang selamat kecuali 2 orang anak kecil bernama daeng Ruru (14 tahun) dan daeng Tulolo (12 tahun) yang kemudian hari melanjutkan kisah perjalanan orang-orang Makassar di Perancis. Di Perancis mereka menjadi kerabat kerajaan. Daeng Ruru bernama Louis Pierre dan Daeng Tulolo bernama Louis Dauphin. over a year ago · Report Fearley Arieza itu kan berdasarkan buku orang eropa…… siapa yg bisa tau itu fakta apa bukan……. Melayu kan bukan dari sumatra & kalimantan saja…. over a year ago · Report Suwandy Mardan Tapi Menurut saya bukti yang dapat kita jadikan rujukan adalah Bukti tertulis dan bukti tertulis yang ada menjelaskan secara rinci peristiwa pertempuran ini berakhir Tragis Daeng dan hanya 2 yang di biarkan Hidup yaitu Putra Daeng Mangalle (Daeng Ruru, 14 Tahun dan Daeng Tulolo, 12 Tahun). over a year ago · Report Fearley Arieza saya sempat bercakap dgn orang2 muangthai….. sayangnya, bahasa inggris mereka tidak jelas…. kurang tertangkap maksudnya…. yah, daeng ruru & tulolo dibawa ke prancis… over a year ago · Report Suwandy Mardan Sejarah Makassar masih sangat panjang. Generasi demi generasi yang terampas harga diri dan kepercayaan dirinya sedang bangkit bertahap demi bertahap sambil berusaha menyambung kebesaran nama Gowa Makassar, “Le’ba Kusoronna Biseangku, Kucampa’na Sombalakku. Tamammelokka Punna Teai Labuang” over a year ago · Report Icchank Nk Machazzart setahu saya, daeng ruru ketika berumur (klo tidak salah) 23 tahun, diangkat mnjadi panglima armada laut perancis… over a year ago · Report Anshar Amin Sikki @Wandy apa artinya itu cessss over a year ago · Report Suwandy Mardan Maknanya sama dengan Sekali Layar Terkembang Pantang Biduk Surut Ke Pantai Kanda Ancha… ^_^ over a year ago · Report Sulfandi Sultan dan dari penelusuran salah satu stasiun tv kita (bca:indonesia) ttg topik “Petualangangan sang petarung” yakni orang thai boxing yg bertarung untuk mendapatkan sedikit uang untuk berpetualang. singkat cerita, setelah ditelusuri ternyata thai boxing berasal dari bela diri tradisional sulsel (yg katanya sudah punah) dan dahulu dibawa oleh masyarakat bugis makassar yg bermukim di patani. (sekarang) bisa dilihat dari senjata khas patani yakni ‘Badek’ atau badik. dan juga Juara2 thai boxing thailand dan international berasal dari daerah ini sebagai pusat thaiboxing. over a year ago · Report Ambo Uphex Coddo..dikit ya..temen-2….. Mungkin sekedar referensi ada beberapa buku yang menceritakan tentang kehidupan masyrakat Makassar di Muangthai atau terkadang saya menyebutnya Thailand..( apakah sama ya..) terutama mengenai sejarah Kerajaan SIAM di abad 15 atau juga di abad 16. Mengenai 2 anak bangsawan dari Gowa kemunkinan yg saya tahu dari beberapa catatan kuno pada abad ke 17 yang berada di Paris bernama yaitu : Daeng Ruru dan Daeng Tulolo Mereka berdua berumur sekitar 14 dan 13 tahun yang telah tiba di Paris pada bulan September 1687 Dan beberapa data di Paris mengatakan mereka berdua adalah tokoh cemerlang baik didalam dunia pendidikan dan akhirnya berjaya dalam Armada angkatan laut Prancis Mereka 2 tokoh yang hidup pada saat pemberontakan ayah mereka yaitu Karaeng Mangallé melawan Raja Siam yaitu Phra Narai. Dan mereka diselamatkan oleh beberapa orang dari perwakilan dagang Prancis dan dikirim ke Prancis dan bertemu oleh Raja Perancis Louis XIV. Dan setelah dewasa dikenal dengan nama yaitu : Daeng Ruru dikenal Louis-Pierre Daén Rourou de Makassar dan Daeng Tulolo dikenal Louis-Dauphin Daén Toulolo de Makassar Semoga informasi ini dapat membantu………… Wassalam

sumber klik di sini

Advertisements

About Amirullah Dg Sibali

Tarbiyah is The Plus One

Discussion

11 thoughts on “Jangan Terpana dengan Masa Lalu Karena Saat Sekaranglah yang Terpenting

  1. Mengagumkan. Sejarah yang mengagumkan. dan di daerahku, Kumai, Kalimantan Tengah, bercampur berbagai suku, di antaranya merekadatang dari Makasar.
    Salam kenal. dan terima kasih karena telah berkunjung ke blog saya.

    Posted by Willy Ediyanto | October 7, 2011, 4:32 pm
    • ^_^
      terima kasih juga atas kunjungan baliknya!
      saya berharap eksistensi SUKU MAKASSAR di masa lalu tidak dilupakan begitu saja. karena saya melihat keberadaan MAKASSAR sebagai SUKU sering ditutup-tutupi oleh oknum-oknum yang tidak SUKA dengan keberadaan SUKU MAKASSAR!!!

      Posted by Amirullah Daeng Sibali | October 8, 2011, 2:15 pm
  2. Iye Daeng Sibali
    Termasuk ada upaya dr pihak lain mencoba utk mendeskritkan Raja Sultan Hasanudin bhw beliau tidak pantas mendapat gelar Pahlawan Nasional…pdhal yg namanya pengkhianat ya tetap pengkhianat.
    Kok syrik banget jd org ya…

    Posted by sewot | October 17, 2011, 10:55 pm
  3. An absorbing language is worth annotate. I expect that you should pen writer on this issue, it mightiness not be a prejudice substance but generally grouping are not enough to mouth on such topics. To the next. Cheers like your Satu Lagi Bukti Kehebatan Suku Makassar (Indonesia) Suara Daeng Indonesia.

    Posted by Constipation remedies | October 23, 2011, 12:00 am
  4. An unputdownable language is designer notice. I conceive that you should write solon on this issue, it might not be a prejudice person but mostly group are not enough to talk on such topics. To the next. Cheers like your Satu Lagi Bukti Kehebatan Suku Makassar (Indonesia) Suara Daeng Indonesia.

    Posted by liberty reserve | October 23, 2011, 12:05 am
  5. These are impressive articles. Keep up the noble be successful.

    Posted by Online games | October 23, 2011, 9:00 pm
  6. mantap skali.
    saya bangga jadi orang makassar asli

    Posted by daeng rewa tena matenna | November 7, 2011, 1:56 am
  7. semoga ini bisa menjadi inspirasi kita anak anak makassar di negri rantau…….salam passaribattangang dari timur kota borneo

    Posted by sukri majja | April 5, 2013, 8:51 pm

Mari Berikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: