//
you're reading
Jendela Islam, Opini, Pendidikan

Luruskan Shaf dan Rapatkan!

Saat ini banyak sekali orang-orang disekitar kita yang sering melakukan amalan tanpa didasari oleh pengetahuan karena malasnya mereka untuk menuntut ilmu agama. Hal ini dapat mengakibatkan munculnya hal yang tidakdicontohkan dalam pelaksanaan ibadah kita.

Salah satu hal yang sering tidak diperhatikan oleh jamaah sholat adalah meluruskan dan merapatkan shaf dalam barisan sholat. Saya punya kisah menarik mengenai hal ini. Dan saya pikir kisah ini terjadi akibat bodohnya dan dangkalnya pengetahuan mereka  tentang hal ini.

Kisah ini sangat sering saya alami namun ada satu kisah yang sangat berkesan dan sulit untuk dilupakan. Kejadiannya terjadi ketika kami akan melaksanakan sholat jum’at. Saat itu saya berada di shaf kedua tepatnya di baris kedua dari kiri. Setelah merapikan shaf saya, untuk meluruskannya, ternyata terdapat celah yang saya pikir masih muat untuk satu orang dewasa. Saya pun semakin merapatkan diri saya ke sebelah kanan sekaligus memberikan kode kepada para jamaah yang ada di shaf ketiga agar salah seorang di antara mereka mengisi shaf yang kosong tersebut. Namun alangkah kagetnya saya ketika hal itu saya lakukan salah seorang jamaah di shaf yang ketiga memerintahkan saya untuk bergeser ke kiri dan melonggarkan shaf agar barisan tidak terlalu longgar. Saya pun tidak menggubris perintahnya tetapi saya memerintahkan kepada salah satu jamaah yang ada dibelakang saya untuk mengisi tempat tersebut. Akan tetapi tidak satu pun di antara mereka yang mau berpindah ke shaf yang ada di depannya.  Setelah mengetahui bahwa sepertinya tidak ada di antara mereka yang mau saya pun kembali merapikan shaf saya karena mendengar perintah imam yakni “luruskan shaf dan rapatkan” akhirnya ada salah seorang jamaah yang maju untuk mengisi tempat yang kosong tersebut.

Kisah ini memberikan kita gambaran akan bahaya yang ditimbulkan dari orang-orang yang beramal tanpa berilmu. Contohnya kisah di atas, jika saja saya menaati perintah orang tersebut untuk melonggarkan shaf saya maka saya melanggar perintah nabi saw untuk merapatkan dan meluruskan shaf, dan yang kedua orang tersebut menyia-nyiakan kesempatan untuk berada di shaf yang kedua yang psatinya lebih baik dari pada shaf yang ketiga.

Meluruskan dan merapatkan shaf merupakan salah satu perintah yang di syariatkan dalam agama kita yan mulia iniSebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, artinya :“Luruskan shafmu, karena sesungguhnya meluruskan shaf itu merupakan bagian dari kesempurnaan shalat”. (Muttafaq ‘Alaih).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda, artinya : “Apakah kalian tidak berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat di sisi Rabb mereka ?” Maka kami (para sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah , bagaimana berbarisnya malaikat di sisi Rabb mereka ?” Beliau menjawab : “Mereka menyempurnakan barisan-barisan (shaf-shaf), yang pertama kemudian (shaf) yang berikutnya, dan mereka merapatkan barisan” (HR. Muslim, An Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah).

Berkata Ibnu Hazm rahimahullahu : hadits ini dan hadits-hadits lain yang semisal merupakan dalil wajibnya merapikan shaf sebelum shalat dimulai. Karena menyempurnakan shalat itu wajib, sedang kerapihan shaf merupakan bagian dari kesempurnaan shalat, maka merapikan shaf merupakan kewajiban. Juga lafaz amr (perintah) dalam hadits di atas menunjukkan wajib.

Teladan dari Nabi dan Para Shahabat

Umar bin Khaththab radhiallahu anhu pernah memukul Abu Utsman An-Nahdi karena ke luar dari barisan shalatnya. Juga Bilal  radhiallahu anhu pernah melakukan hal yang sama, seperti yang dikatakan oleh Suwaid bin Ghaflah bahwa Umar dan Bilal radhiallahu anhuma pernah memukul pundak kami dan mereka tidak akan memukul orang lain, kecuali karena meninggalkan sesuatu yang diwajibkan (Fathul Bari juz 2 hal 447). Itulah sebabnya, ketika Anas  radhiallahu anhu tiba di Madinah dan ditanya apa yang paling anda ingkari, beliau berkata, “Saya tidak pernah mengingkari sesuatu melebihi larangan saya kepada orang yang tidak merapikan shafnya.” (HR. Bukhari).

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebelum memulai shalat, beliau berjalan merapikan shaf dan memegang dada dan pundak para sahabat dan bersabda,artinya : “Wahai sekalian hamba Allah! Hedaklah kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak), maka sungguh Allah akan membalikkan wajah-wajah kalian.” (HR. Al-Jama’ah, kecuali Bukhari).

Di dalam riwayat Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah biasa masuk memeriksa ke shaf-shaf mulai dari satu ujung ke ujung yang lain, memegang dada dan pundak kami seraya bersabda,artinya : “Janganlah kalian berbeda (tidak lurus shafnya), karena akan menjadikan hati kalian berselisih” (HR. Muslim).

Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata, “Yang dimaksud dengan perselisihan hati pada hadits di atas adalah bahwa ketika seorang tidak lurus di dalam shafnya dengan berdiri ke depan atau ke belakang, menunjukkan kesombongan di dalam hatinya yang tidak mau diatur. Yang demikian itu, akan merusak hati dan bisa menimbulkan perpecahan (Fathul Bari juz 2 hal 443).

Sumber link

www. http://www.al-munir.com/

Advertisements

About Amirullah Dg Sibali

Tarbiyah is The Plus One

Discussion

No comments yet.

Mari Berikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: