//
you're reading
Jendela Islam, Konseling, Pendidikan

PEMIMPIN ADALAH GAMBARAN RAKYAT

Indonesia bangsa yang besar, kaya sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Tapi Negara ini belum mampu keluar dari permasalahan-permasalahan yang dihadapinya. Cobaan yang datang tidak silih berganti tetapi saling bertumpuk dan akhirnya menggunung karena tak ada satupun yang mampu terselesaikan dengan baik.

Salah satu kasus yang sering kita dengar adalah kasus korupsi dan suap yang ditujukan kepada para petinggi negeri ini. Mulai dari – maaf – Gayus, Nazaruddin, Kemenpora, yang berskala nasional, dan masih banyak lagi kasus lain dari daerah yang belum teridentifikasi oleh publik.

Cacian dan makian dari rakyat pun mengalir dengan deras melalui media ataupun aksi di jalan. Tak jarang aksi di jalan ini sering berakhir dengan bentrok karena deadlock komunikasi antara pihak yang beraksi dan pihak yang bertugas mengamankan aksi.

Bagaimana kita seharusnya menyikapi hal ini???
Sebagai seorang rakyat kita seharusnya harus lebih mampu menahan diri dan bersabar dengan tingkah para pemimpin kita, jika hal itu benar, Karena mereka menjadi pemimpin disebabkan oleh suara rakyat yang memilihnya. Kalaupun harus menasehati haruslah dengan cara yang baik dan sopan serta tidak didepan umum seperti yang sekarang kita sering lihat di media.

Tingkah yang tidak baik yang sering kita lihat dari para pemimpin seharusnya menjadi bahan instropeksi bagi diri kita. Jangan sampai perbuatan jelek yang dilakukan oleh penguasa ternyata tanpa sadar juga kita sering lakukan. Terkadang kita meneriaki para pemimpin kita dengan kata-kata kasar seperti koruptor dan sebagainya tapi perilaku kita sebagai seorang pedagang misalnya dipasar yang tidak memberi timbanga dengan adil juga merupakan perilaku koruptor yang tidak kita sadari. Contoh lain misalnya kita sebagai pegawai negeri sering terlambat masuk ke kantor akibatnya sering melalaikan kewajiban dan tugas kita melayani rakyat. Bukan kah ini juga merupakan perkara yang bisa dianggap korup???

Untuk membangun negara yang baik dan kuat haruslah dimulai dengan rakyat yang baik dan kuat pula. Demikian pula untukmendapatkan pemimpin yang bersih harus dimulai dengan perilaku rakyat yang bersih.

Dewasa ini sering kita mendengar cacian dimasyarakat yang ditujukan kepada para pemimpin tentang perbuatan mereka yang sering menyuap demi terhindar dari jeratan hukum. Akan tetapi ingat bahwa bisa saja pemimpin tersebut menjadi seorang pemimpin karena dipilih oleh masyarakat yang senang dengan pemberian hadiah saat kampanye, sadar atau tidak ini merupakan perilaku suap, sehingga tidak objektif lagi dalam memilih pemimpin. Jadi orang-orang yang terpilih dan memilih sama-sama suka dengan kegiatan seperti itu.

ADAB KEPADA PENGUASA
Islam mengatur bagaimana seharusnya hubungan di antara rakyat dengan penguasa, agar hubungan ini berjalan dengan harmonis sehingga terbentuklah sebuah susunan dan jalinan masyarakat yang diidam-idamkan.
Menghormati Penguasa
Tidak boleh bagi seorangpun untuk melecehkan penguasa, mencelanya atau mengumpatnya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang keras sikap merendahkan penguasa, beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, artinya ; “Para penguasa adalah naungan Allah di muka bumi. Barangsiapa yang memuliakan penguasa, Allah akan memuliakannya. Barangsiapa yang menghina penguasa, Allah akan menghinakan dia. (HR.Baihaqi 17/6. Lihat as-Sahihah 5/376).
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmati Sahl bin Abdullah at-Tustari rahimahullah yang telah berkata : “Manusia akan sentiasa berada dalam kebaikan selama mereka menghormati penguasa dan para ulama. Apabila mereka mengagungkan dua golongan ini, Allah akan memperbaiki dunia dan akhirat mereka. Apabila mereka merendahkannya, bererti mereka telah menghancurkan dunia dan akhirat mereka sendiri.” (Tafsir al-Qurthubi, 5/260).
Menasehati Kemungkaran Penguasa
Penguasa adalah bagian dari kaum muslimin yang berhak dinasihati. Akan tetapi menasihati penguasa tidak sama seperti menasihati kaum muslimin selain mereka. Tuntunan syariat dalam menasehati mereka adalah dengan menasehatinya secara sirr (diam-diam/rahasia).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, artinya : “Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkannya terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia meraih tangan sang penguasa, lalu menyepi dengannya. Jika nasihat itu diterima, maka itulah yang diinginkan. Namun jika tidak, maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban (menasihati penguasa).” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Zhilalul Jannah, (no. 1096)).
Imam Bukhari dan Muslim rahimahumallah dalam Shahihnya meriwayatkan: “Dikatakan kepada Usamah bin Zaid radhiallahu anhu, “Kalau sekiranya engkau mendatangi si fulan (dalam riwayat Imam Muslim, si fulan yang dimaksud adalah: Utsman bin Affan radhiallahu anhu) lalu engkau menasihatinya?” Usamah menjawab, “Sesungguhnya kalian benar-benar mengira bahwa aku tidak menasihatinya, kecuali jika aku memperdengarkannya kepada kalian?! Sungguh aku telah menasihatinya secara diam-diam, tanpa aku membuka sebuah pintu yang semoga aku bukanlah orang pertama yang membuka pintu tersebut.”
Dari penjelasan di atas, maka telah jelas bahwa menasihati penguasa tidak boleh dilakukan secara terang-terangan, baik melalui demonstrasi, berbicara di mimbar-mimbar terbuka, ataupun melalui media – media yang dapat disebarkan secara terbuka.
Bersabar Atas Kezhaliman Penguasa
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, artinya : “Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak ia sukai (kemungkaran) yang ada pada pemimpin negaranya, maka hendaklah ia bersabar, karena sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah (pemerintah) kemudian ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma).
Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata, “Jika tidak memungkinkan untuk menasihati penguasa (dengan cara yang syar’i), maka solusi akhirnya adalah sabar dan doa, karena dahulu mereka –yakni sahabat- melarang dari mencaci penguasa”. Kemudian beliau menyebutkan sanad satu atsar dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, beliau (Anas) berkata, “Dahulu para pembesar Sahabat Rasulullah r melarang dari mencaci para penguasa.” [Lihat At-Tamhid, Al-Imam Ibnu Abdil Barr, (21/287)].
Tidak Memberontak
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, artinya : “Sebaik-baik penguasa adalah yang kalian mencintainya dan mereka mencintai kalian. Kalian mendo`akannya dan mereka mendo’akan kalian. Seburuk-buruk penguasa adalah yang kalian membencinya dan mereka pun membenci kalian, kalian mencacinya dan mereka mencaci kalian.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya: “Wahai Rasulullah tidakkah kita memberontak dengan pedang?” beliau r menjawab: “Jangan, selama mereka masih menegakkan sholat.” Apabila kalian melihat sesuatu yang kalian benci dari penguasa kalian, maka bencilah perbuatannya dan janganlah kalian mencabut ketaatan dari mereka. (HR.Muslim, 3/1481).
Sungguh sejarah telah mencatat kekejaman seorang yang bernama Hajjaj bin Yusuf as-Tsaqofi. Dia telah banyak membunuh jiwa, sehingga sahabat yang mulia Abdullah bin Zubair t terbunuh. Lantas bagaimana sikap para sahabat yang lain, apakah mereka menyusun kekuatan untuk memberontak? Tidak sama sekali, bahkan mereka tetap menganjurkan untuk mendengar dan taat.
Mendo’akan Kebaikan Bagi Penguasa
Abu Utsman Said bin Ismail rahimahullah berkata: “Nasihatilah penguasa, perbanyaklah mendo’akan kebaikan bagi mereka dengan ucapan, perbuatan dan hukum. Karena apabila mereka baik, rakyat akan baik. Janganlah kalian mendo’akan keburukkan dan laknat bagi penguasa, karena keburukkan mereka akan bertambah dan bertambah pula musibah bagi kaum muslimin. Do’akanlah mereka agar bertaubat dan meninggalkan keburukkan sehingga musibah hilang dari kaum muslimin.” (Syu’abul Iman, 13/99). Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: “Andaikan aku mempunyai do’a yang mustajab niscaya akan aku panjatkan untuk penguasa.” (Dikeluarkan oleh Abu Nuaim dalam al-Hilyah, 8/91).

Musibah yang terus menerpa Negara kita Indonesia bisa jadi merupakan teguran bagi kita sebagau rakyat bukan hanya teguran kepada para pemimpin bangsa. Untuk itu janganlah kita terus menerus menyalahkan para pemimpin tapi marilah mengintrospeksi diri kita masing-masing dan bersabar dengan semua cobaan ini.

lINK:
http://www.al-munir.com/artikel-313-sikap-kepada-penguasa.html

Advertisements

About Amirullah Dg Sibali

Tarbiyah is The Plus One

Discussion

No comments yet.

Mari Berikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: