//
you're reading
Konseling, psikologi Pendidikan, Universitas Negeri Makassar

BK bukan POLISI SEKOLAH!!!

disusun oleh M. Amirullah (Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling UNM Makassar 2010)

Apa yang terlintas dipikiran murid ketika mendapat panggilan ke ruang BK oleh guru BK? Biasa saja, Senang, takut, atau malu?
Kebanyakan dari murid akan merasa malu jika mendapat panggilan dari guru BK, mereka akan berjalan dengan ragu untuk memenuhi panggilan tersebut. Mengapa hal ini dapat terjadi?
Opini masyarakat sekolah pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya menganggap ruang BK sebagai ruang persidangan untuk mengadili anak-anak yang bermasalah di sekolahnya, sehingga muncul stigma negatif yang menganggap bahwa guru BK adalah polisi sekolah. Siswa yang mendapat panggilan dari guru BK adalah anak nakal dan anak bermasalah yang akan diadili.
Jujur saja, saat masih berstatus siswa sekolah saya pun berpikiran seperti itu, karena kenyataannya memang seperti itu, guru BK di sekolah tempat saya mengenyam pendidikan berperan sebagai polisi sekolah, beliau akan menghukum siswa yang terlambat, mencukur acak rambut siswa yang gonrong, atau menghukum siswa yang nakal. Hal ini menyebabkan saya alergi terhadap ruang BK, bahkan untuk lewat di depan ruang tersebut saya harus pikir-pikir dulu. Saya pun merasa bangga ketika tamat SMP tanpa pernah mendapat panggilan ke ruang BK karena anggapan saya bahwa ruang BK hanya untuk anak nakal dan bermasalah.
Memasuki masa SMA pun demikian, guru BK tidak banyak berperan dalam aspek pengembangan diri bagi siswa. Mereka hanyalah petugas-petugas penegak peraturan dan penindak bagi siswa-siswa indisipliner yang membangkang terhadap aturan.
Saya baru memahami peran guru BK yang sesungguhnya setelah memasuki bangku perkuliahan dan memilih jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan di salah satu PTN di kota Makassar. Awalnya pun saya ragu memilih jurusan ini karena menganggap saya adalah orang yang tidak pemarah, tidak berwajah sangar, dan terlalu baik jika harus menjadi guru BK. Setelah mendapat penjelasa dari Ibu dan tante saya yang kebetulan guru BK, akhirnya saya memilih jurusan ini sebagai pilihan belajar di Universitas.

Di bangku kuliah inilah wawasan saya mengenai BK bertambah, persepsi saya pun berubah 3600 tentang guru BK dan ruangannya. Di universitas pula saya mengetahui bahwa tindakan kebanyakan guru BK yang tidak sesuai dalam menjalankan proses konseling disebabkan banyaknya guru BK yang latar belakangnya bukan dari jurusan BK itu sendiri.
Semenjak saat itu saya bertekat menjadi guru BK yang ideal yang mampu melayani siswa membantu mencarikan alternatif penyelesaian masalah yang mereka hadapi. Menjadi teman bicara yang siap mendengarkan keluh kesah bagi siswa. Tidak hanya sekedar mencari dan memanggil siswa yang absen, yang cabut, berkelahi dan macam-macam ketidak teraturan lainnya. Karena hal ini justru akan memberikan penafsiran yang salah tentang tugas dan tanggung jawab guru BK.
Persepsi keliru yang melekat pada guru BK tidak hanya terjadi oleh masyarakat ataupun siswa. Terkadang guru bidang studi pun memiliki persepsi yang keliru terhadap guru BK
Ada sebagian guru berpandangan miring serta salah akan penafsiran terhadap tugas dan peran guru BK dan hingga saat ini masih terdengar perbincangan yang memojokkan BK pada posisi yang kurang menguntungkan.Jika keadaan sekolah berjalan normal atau berprestasi atas kerja BK, maka jasa mereka tidak mendapat perhatian.Akan tetapi jika siswa absen, cabut, berkelahi dan macam-macam ketidak teraturan lainnya maka biasanya guru BK mendapat bagian cercaan.Untuk itu sebagai guru BK harus tegas memilah mana dari bagian tugas yang memang harus ia kerjakan dan mana yang bukan.

Ada 4 macam persepsi yang sering muncul terhadap tugas sebagai guru BK yaitu;1

1. BK disamakan dengan guru pada umumnya.
Pendapat demikian antara lain ;
a. Pendapat yang mengatakan bahwa BK sama dengan pendidikan lainnya.Mereka berpendapat bahwa tidak perlu ada BK di sekolah.Menurut mereka cukup dengan memperbaiki pendidikan dan fasilitasnya, maka BK tidak di perlukan lagi.Mereka lupa bahwa manusia punya hati, dan dengan itu sebagiannya pasti punya masalah yang perlu di carikan jalan pemecahannya.
b. Pendapat yang mengatakan bahwa BK tidak punya kompetensi yang cukup untuk membantu menangani masalah siswa dan harus di lakukan oleh para ahli.

2. BK sebagai Polisi sekolah
Masih banyak guru bahkan sebagian Kepala Sekolah yang beranggapan bahwa BK berperan sebagai benteng disiplin, tata tertib, Mereka beranggapan bahwa semua masalah siswa adalah tanggungjawab BK, maka kalau ada pelanggaran harus di serahkan ke BK.Tidak jarang pula BK di serahi tugas untuk mengusut perkelahian bahkan pencurian.Hal ini bukan merupakan tugas BK, dan apabila ada BK yang berbuat mengikuti yang seperti ini berarti dia telah menjadi pelopor menyalahi profesi BK, sebab tugas seperti itu tak pernah ada poin nya dalam SK penugasan kita?Dan apabila kita bertugas sebagai polisi sekolah maka siswa akan takut kepada kita, lalu bagaimana mungkin siswa akan datang membicarakan masalahnya secara sukarela.

3. BK “super” karena bisa jadi penyembuh.
Tidak dapat di sangkal bahwa BK di samping berperan sebagai preventif, juga berperan sebagai teman siswa dalam mencari /keluar dari permasalahannya.Namun demikian hendaknya kita juga sadar bahwa kita bukan orang “super” yang mampu membawa siswa keluar dari semua permasalahannya.BK tidak melayani “orang sakit” atau “kurang normal”, BK hanya melayani orang normal yang mengalami masalah tertentu.BK hanya membantu mencarikan alternatif penyelesaian masalah, sedangkan yang menentukan berhasil atau tidaknya adalah siswa.

4. Hasil kerja BK “Instant”.
Anggapan bahwa masalah yang di tangani oleh BK akan mendapatkan hasil yang nyata dalam sekejap alias sekali layanan adalah anggapan yang keliru.Objek yang dilayani adalah manusia yang punya hati, kemauan, kemampuan, bukannya seonggok barang yang bisa di perlakukan semaunya.Perlu waktu untuk merubah kebiasaan yang sudah melekat pada siswa dan itu bukan hal yang mudah.
Guru bimbingan dan konseling/konselor memiliki tugas, tanggungjawab, wewenang dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik. Tugas guru bimbingan dan konseling/konselor terkait dengan pengembangan diri peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, dan kepribadian peserta didik di sekolah/madrasah.
Tugas guru bimbingan dan konseling/konselor yaitu membantu peserta didik dalam2:
1. Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai bakat dan minat.
2. Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial dan industrial yang harmonis, dinamis, berkeadilan dan bermartabat.
3. Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar untuk mengikuti pendidikan sekolah/madrasah secara mandiri.
4. Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.

Catatan:
1. http://aktual-asiddau.blogspot.com/2011/03/4-kesalahan-persepsi-tentang-tugas-guru.html
2. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2009/11/pedoman-pelaksanaan-tugas-guru-dan-pengawas.pdf

sumber gambar : http://blog.unm.ac.id/sucianilatif/category/konseling/

Advertisements

About Amirullah Dg Sibali

Tarbiyah is The Plus One

Discussion

No comments yet.

Mari Berikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: